Pages

Senin, 08 April 2013

Cerita Pendek Menggapai OZON Part 1 (Tugas Bahasa Indonesia)

Menjelang malam, sekolah mulai sepi. Di suatu kelas yang bertuliskan XII IPA-1 tersisa tiga anak yang masih duduk termenung dan galau memikirkan pelajaran BK tadi pagi. Suasana tampak hening awalnya, namun setelah salah satu dari ketiga anak tersebut angkat bicara, suasana menjadi tidak hening lagi. Suasana hening berubah menjadi percakapan khas tiga anak yang sering dijuluki trio singa.
Kristanti : “Memang benar ya apa yang dikatakan guru BK tadi. Kita semua harus memiliki tujuan yang mantap sebagai bekal mencari cita-cita.”
Riani : “Iya nih, hingga hari ini kita masih belum memikirkan mau kemana kita kalau sudah lulus nanti. Masih galau dengan banyak pilihan.” (Sambil beres-beres buku pelajaran dan alat tulisnya)
Aisyah : “Sudah lah, jangan bahas itu lagi. Nantinya kita juga pasti menemukan jati diri kita sebenarnya. Kalau masa depan bisa diraih dengan genggaman tangan ini, mengapa terlalu difikirkan? Masa depan itu ibarat kita memilih cowok. Kalau cocok pastinya nggak akan kemana deh.”
Riani : “Benar juga kamu Aisyah. Tapi bingungnya bulan depan sudah ada pendaftaran SNM-PTN loh. Gimana nih? Mau daftar kemana kita coba kalau sekarang masih belum mendapat angan-angan.”
Kristanti : “Gini aja, kita nanti ke toko buku aja. Cari buku psikologi yang bisa dibuat acuan bakat minat kita sebagai acuan untuk meraih cita-cita.”
Aisyah : “Boleh juga, pulang sekolah langsung ya kita naik angkot dan turun di depan Gramedia. Eh Riani, akhir-akhir ini kamu jarang sekali memikirkan Satria lagi. Kamu move on ya? Atau sudah merasa tidak cocok dengan Satria. Dengar-dengar banyak anak yang bilang barusan tadi Satria menembak Sukma. Semoga hal itu tidak benar. Hanya sebuah gosip semata.”
Riani : “Buat apa memikirkan cowok itu. Lagian dari dulu aku kejar namun dia hanya cuek aja dan pura-pura nggak tahu. Percuma seperti mengejar angin yang sangat kencang. Kalaupun didapat malah menghilang. Dan kalau Satria dan Sukma bisa serasi, ngapain saya harus menjadi orang ketiganya?”
Kristanti : “Coba deketin lagi deh. Nggak apa-apa kok menjadi yang kedua, yang penting bisa diutamakan daripada menjadi yang pertama tapi diduakan.”
Aisyah : “Retweet Kristanti. Cucok banget sih kata-katamu hari ini. Cetar membahana”
Riani : “Ya mau gimana lagi, sudah capek saya. Kalaupun Satria memang jadian sama Sukma juga nggak apa-apa. Kan Aisyah tadi bilang kalau jodoh pasti nggak akan kemana.”
Kristanti : “Benar juga deh. Ya udah lupakan Satria dan cari yang baru”
Aisyah : “Yuk pulang.”
Setelah barang buat pelajaran hari ini telah masuk ke tas, mereka langsung meninggalkan kelas yang lumayan belakang dari deretan gedung sekolah itu. Tak berapa jauh dari kelas, nampak Sukma yang sedang memegang setangkai bunga mawar.
Sukma : “Eh ada trio singa sekolah yang baru pulang.”
Kristanti : “Ngapain sih kau buat masalah terus, lagian kita bertiga nggak pernah buat masalah denganmu.”
Riani : “Sudahlah jangan buat keributan disini. Kalau penunggu sekolah ini marah dan terganggu baru tahu rasa kalian.”
Sukma : “Kamu tahu nggak, tadi tuh Satria beri bunga mawar ini kepadaku dan menembakku dengan kata yang tulus penuh dengan cinta”
Aisyah  : “Terus jadi masalah dengan kami?”
Sukma : “Enggak, Cuma mau kasih tahu aja. Dan lebih mengejutkan lagi, Saya dan Satria janjian kuliah bareng di Fakultas Sastra UGM. Wangi kan bunganya? Khas banget bau Satria disini.”
Riani : “Nggak penting banget informasinya. Permisi ya kita mau pulang soalnya sudah mulai malam. Assalamualaikum wr.wb.”
Sukma :” Walaikumsalam wr.wb. Jangan cemburu ya kalian kalau saya bisa mendapatkan Satria lebih dulu daripada kalian.”
Tanpa menjawab celotehan Sukma yang GaJe alias nggak jelas itu, mereka bertiga menggeloyor pergi melewati lorong demi lorong akhirnya sampai juga di gerbang depan sekolah. Sebelum mereka naik angkot menuju toko buku Gramedia, mereka sempat bertemu Satria dan berbincang sedikit.
Satria : “Baru pulang?”
Aisyah : “Menurutmu gimana? Penting ya kamu nanya ini ke kita. Perhatian banget sih kamu hari ini.”
Satria : “Cuma tanya begitu aja nggak boleh. Kalau begitu hati-hati dijalan ya.” (Satria menstarter motornya dan menyelonong pergi tanpa mengucapkan salam)
Asiyah : “Nggak usah sok gitu deh. Urusin Sukma yang tadi pamer karena udah jadian sama kamu. Bilangin cewek rese’ itu ya jangan buat masalah dengan kami lagi.”
Satria : “Baiklah kalau itu memang yang terbaik untuk kalian. Saya akan coba itu.” (menoleh ke belakang)
Riani  : “Sudah lah jangan ditanggapin terus.”
Kristanti : “Benar-benar manusia sok cool dan cuek banget seperti dajjal ya. Syukurlah kamu bisa move on dari anak itu.”
Aisyah : “Emang, yuk kita naik angkot sebelum ditumpangi anak-anak sekolah lain.”
Setibanya di toko buku, Kristanti menuju Rak Psikologi, sedangkan Aisyah menuju ke tempat novel teenlit sedangkan Riani linglung sendiri mencari buku nggak jelas.
Aisyah : “Riani kamu cari buku apa sih, dari tadi mondar-mandir melulu.”
Riani : “Belum tahu mau cari buku apa. Banyak buku yang bagus disini jadi bingung milih yang mana.”
Kristanti : “Saya menemukan buku inspiratif nih berjudul “Ozon di  Puncak Himalaya”. Kita harus bisa kesana. Dulu masih SD saya pernah bermimpi untuk menyentuh Ozon. Tapi kita harus kuliah dimana kalau kita bisa pergi kesana.” (sambil membawa buku “Ozon di Puncak Himalaya” karya Sulis A. terbitan Scionest Publisher)
Riani : “Fakultas Geologi UGM. Gimana? Kita daftar ke UGM?”
Aisyah : “Ok deh baiklah, mulai sekarang kita fokus belajar geologi mulai sekarang.”
Kristanti : “Sip deh. Ayo ke kasir buat bayar buku ini.
Riani : “Tunggu dulu, saya ambil buku ini juga.” (mengambil buku “Hebat Jadi Penulis” karya Yudha K. terbitan Scionest Publisher)
Aisyah : “Apaan itu?”
Riani : “Hebat Jadi Penulis, buku yang inspiratif banget. Mulai hari ini saya akan mengisi waktu luang dengan menulis.”
Kristanti : “Baiklah, kamu juga akan ke Fakultas Bahasa dengan Satria? Katanya mau move on?”
Aisyah : “Cieh, tapi tadi bilangnya Fakultas Geologi? Gimana jadinya?”
Riani : “Ke Geologi aja, ni buku hanya saya pakai biar saya bisa tulis novel best seler seluruh Indonesia. Kalau saya terkenal pasti tulisan saya mahal dan banyak penggemar gitu."
Satu bulan kemudian, Riani dkk. mendaftarkan diri ke Fakultas Geologi UGM melalui test SNM-PTN. Hasilnya mereka bertiga diterima dengan nilai yang cukup memuaskan. Dan dua bulan setelah bulan itu, akhirnya novel karya Riani selesai juga.
Riani : “Akhirnya novel nya selesai juga. Bantu saya ya mengirimkan ke publisher.” 
Aisyah : “Baiklah, ini email sudah terkirim ke publiser-publiser. Kalau sudah terkenal tapi jangan lupa dengan teman-teman ya?”
Kristanti : “Jangan lupa traktir kami di SS atau di Cabe sepuasnya. Kalau nggak gitu nonton aja dah seharian.” 
Riani : “So pasti. Kalau karya saya jelek menurut orang-orang sana gimana?” 
Aisyah : “Jangan mudah berputus asa gitu deh. Semangat!” 
Riani : “Ok deh. Ganbatte!” 
Setelah menunggu waktu beberapa hari bahkan bulan, banyak publisher yang menolak karya Riani. Banyak email balasan yang mengungkapkan bahwa karya Riani sangat jelek dan tidak patut dipasarkan. Hanya tersisa satu publiser yang belum kasih konfirmasi kepada Riani malah mengajak ketemuan di tempat kerjanya. 
Manajer : “Ini dengan Riani, penulis novel Cintaku Bukan Diatas Kertas?” (membawa naskah yang dikirimkan Riani beberapa bulan yang lalu) 
Riani : “Iya ada apa dengan karya saya?” 
Manajer : “Mohon maaf ya, novel ini saya kembalikan soalnya tidak menarik ceritanya sehingga mungkin tidak laku dipasaran.” (menyerahkan naskah ke Riani) 
Riani : “Oh begitu ya, nggak apa-apa kalau begitu. Saya permisi dulu.” 
Manajer : “Baiklah. Eh ini ada satu lembar yang tersisa”. (menagmbil lembaran yang terjatuh, membaca sebentar dan mengembalikannya ke Riani) 
Riani : “Terima kasih.” 
Riani sudah berputus asa dan ingin merobek karyanya itu, namun dari arah belakang si manajer yang mengajak ketemuan tadi teriak-teriak memanggil Riani. 
Manajer : “Riani tunggu.” (teriak manajer) 
Riani : “Maaf ada apa lagi.” (berbalik arah) 
Manajer : “Coba saya lihat bagian lembar yang terakhir tadi.” 
Riani : “Ini lembarnya.” (memberikan lembaran ke manajer) 
Manajer : “Menarik juga. Boleh saya ambil karya nya? Mungkin bulan depan kita draft contrak dan novel ini akan diterbitkan.” 
Riani : “Serius pak?” 
Manajer : “Iya serius, saya belum baca sampai halaman ini sehingga saya kira naskah anda kurang menarik. Ternyata dibagian akhir menarik pula. Mana naskahnya, biar diedit oleh editor kami.” 
Riani : “Terima kasih pak kerja samanya.” 
Setelah keluar kantor penerbitan novel yang sangat terkenal di Indonesia itu, Riani menjadi sangat lega dan tidak jadi berputus asa lagi. Riani senyum melulu dari perjalanan sampai menuju kamar kostnya.
Aisyah : “Hei Riani, hari ini saya lihat kamu senyum melulu. Ada apa gerangan denganmu. Kamu bahagila ya hari ini?” 
Riani : “Nggak apa-apa, hanya ada berita sedikit yang membuat hati saya menjadi senang sekali.” 
Kristanti  : “Ada apa sih? Kamu sudah menemukan jodoh yang baru ya?" 
Riani : “ Bukan itu, saya masih tetap jomblo sampai hari ini. Tidak ada cowok yang spesial menurut saya hari ini.” 
Aisyah : “Terus apa kalau begitu.” 
Riani                : “Hemm, Novel saya bulan depan diterbitkan.” 
Aisyah              : “Ah masa’? Kamu nggak bohong kan?" 
Riani                : “Benar, nggak bakal bohong saya.” 
Kristanti           : “Berarti nanti kita nanti ke SS atau nonton?” 
Riani                : “Nonton aja deh, ada film bagus tadi yaitu Pocong Bebek Angsa” 
Semua             : “Ok deh. Berangkat.” 
Tunggu kisah selanjutnya ... (Menggapai OZON Part 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar