Menjelang
malam, sekolah mulai sepi. Di suatu kelas yang bertuliskan XII IPA-1 tersisa
tiga anak yang masih duduk termenung dan galau memikirkan pelajaran BK tadi
pagi. Suasana tampak hening awalnya, namun setelah salah satu dari ketiga anak
tersebut angkat bicara, suasana menjadi tidak hening lagi. Suasana hening
berubah menjadi percakapan khas tiga anak yang sering dijuluki trio singa.
Kristanti : “Memang benar ya apa yang dikatakan
guru BK tadi. Kita semua harus memiliki tujuan yang mantap sebagai bekal
mencari cita-cita.”
Riani : “Iya nih, hingga hari ini kita
masih belum memikirkan mau kemana kita kalau sudah lulus nanti. Masih galau
dengan banyak pilihan.” (Sambil beres-beres buku pelajaran dan alat tulisnya)
Aisyah : “Sudah lah, jangan bahas itu
lagi. Nantinya kita juga pasti menemukan jati diri kita sebenarnya. Kalau masa
depan bisa diraih dengan genggaman tangan ini, mengapa terlalu difikirkan? Masa
depan itu ibarat kita memilih cowok. Kalau cocok pastinya nggak akan kemana
deh.”
Riani : “Benar juga kamu Aisyah. Tapi
bingungnya bulan depan sudah ada pendaftaran SNM-PTN loh. Gimana nih? Mau
daftar kemana kita coba kalau sekarang masih belum mendapat angan-angan.”
Kristanti : “Gini aja, kita nanti ke toko buku
aja. Cari buku psikologi yang bisa dibuat acuan bakat minat kita sebagai acuan
untuk meraih cita-cita.”
Aisyah : “Boleh juga, pulang sekolah
langsung ya kita naik angkot dan turun di depan Gramedia. Eh Riani, akhir-akhir
ini kamu jarang sekali memikirkan Satria lagi. Kamu move on ya? Atau sudah merasa
tidak cocok dengan Satria. Dengar-dengar banyak anak yang bilang barusan tadi
Satria menembak Sukma. Semoga hal itu tidak benar. Hanya sebuah gosip semata.”
Riani : “Buat apa memikirkan cowok
itu. Lagian dari dulu aku kejar namun dia hanya cuek aja dan pura-pura nggak
tahu. Percuma seperti mengejar angin yang sangat kencang. Kalaupun didapat
malah menghilang. Dan kalau Satria dan Sukma bisa serasi, ngapain saya harus
menjadi orang ketiganya?”
Kristanti : “Coba deketin lagi deh. Nggak
apa-apa kok menjadi yang kedua, yang penting bisa diutamakan daripada menjadi
yang pertama tapi diduakan.”
Aisyah : “Retweet Kristanti. Cucok banget
sih kata-katamu hari ini. Cetar membahana”
Riani : “Ya mau gimana lagi, sudah
capek saya. Kalaupun Satria memang jadian sama Sukma juga nggak apa-apa. Kan
Aisyah tadi bilang kalau jodoh pasti nggak akan kemana.”
Kristanti : “Benar juga deh. Ya udah lupakan
Satria dan cari yang baru”
Aisyah : “Yuk pulang.”
Setelah
barang buat pelajaran hari ini telah masuk ke tas, mereka langsung meninggalkan
kelas yang lumayan belakang dari deretan gedung sekolah itu. Tak berapa jauh
dari kelas, nampak Sukma yang sedang memegang setangkai bunga mawar.
Sukma : “Eh ada trio singa sekolah yang
baru pulang.”
Kristanti : “Ngapain sih kau buat masalah
terus, lagian kita bertiga nggak pernah buat masalah denganmu.”
Riani : “Sudahlah jangan buat
keributan disini. Kalau penunggu sekolah ini marah dan terganggu baru tahu rasa
kalian.”
Sukma : “Kamu tahu nggak, tadi tuh Satria
beri bunga mawar ini kepadaku dan menembakku dengan kata yang tulus penuh
dengan cinta”
Aisyah : “Terus jadi masalah dengan kami?”
Sukma : “Enggak, Cuma mau kasih tahu aja.
Dan lebih mengejutkan lagi, Saya dan Satria janjian kuliah bareng di Fakultas
Sastra UGM. Wangi kan bunganya? Khas banget bau Satria disini.”
Riani : “Nggak penting banget
informasinya. Permisi ya kita mau pulang soalnya sudah mulai malam.
Assalamualaikum wr.wb.”
Sukma :” Walaikumsalam wr.wb. Jangan
cemburu ya kalian kalau saya bisa mendapatkan Satria lebih dulu daripada
kalian.”
Tanpa
menjawab celotehan Sukma yang GaJe alias nggak jelas itu, mereka bertiga
menggeloyor pergi melewati lorong demi lorong akhirnya sampai juga di gerbang
depan sekolah. Sebelum mereka naik angkot menuju toko buku Gramedia, mereka
sempat bertemu Satria dan berbincang sedikit.
Satria : “Baru pulang?”
Aisyah : “Menurutmu gimana? Penting ya
kamu nanya ini ke kita. Perhatian banget sih kamu hari ini.”
Satria : “Cuma tanya begitu aja nggak
boleh. Kalau begitu hati-hati dijalan ya.” (Satria menstarter motornya dan
menyelonong pergi tanpa mengucapkan salam)
Asiyah : “Nggak usah sok gitu deh. Urusin
Sukma yang tadi pamer karena udah jadian sama kamu. Bilangin cewek rese’ itu ya
jangan buat masalah dengan kami lagi.”
Satria : “Baiklah kalau itu memang yang
terbaik untuk kalian. Saya akan coba itu.” (menoleh ke belakang)
Riani : “Sudah lah jangan ditanggapin
terus.”
Kristanti : “Benar-benar manusia sok cool dan
cuek banget seperti dajjal ya. Syukurlah kamu bisa move on dari anak itu.”
Aisyah : “Emang, yuk kita naik angkot sebelum
ditumpangi anak-anak sekolah lain.”
Setibanya
di toko buku, Kristanti menuju Rak Psikologi, sedangkan Aisyah menuju ke tempat
novel teenlit sedangkan Riani linglung sendiri mencari buku nggak jelas.
Aisyah : “Riani kamu cari buku apa sih,
dari tadi mondar-mandir melulu.”
Riani : “Belum tahu mau cari buku apa.
Banyak buku yang bagus disini jadi bingung milih yang mana.”
Kristanti : “Saya menemukan buku inspiratif nih
berjudul “Ozon di Puncak Himalaya”. Kita
harus bisa kesana. Dulu masih SD saya pernah bermimpi untuk menyentuh Ozon.
Tapi kita harus kuliah dimana kalau kita bisa pergi kesana.” (sambil membawa
buku “Ozon di Puncak Himalaya” karya Sulis A. terbitan Scionest Publisher)
Riani : “Fakultas Geologi UGM. Gimana?
Kita daftar ke UGM?”
Aisyah : “Ok deh baiklah, mulai sekarang
kita fokus belajar geologi mulai sekarang.”
Kristanti : “Sip deh. Ayo ke kasir buat bayar
buku ini.
Riani : “Tunggu dulu, saya ambil buku
ini juga.” (mengambil buku “Hebat Jadi Penulis” karya Yudha K. terbitan Scionest
Publisher)
Aisyah : “Apaan itu?”
Riani : “Hebat Jadi Penulis, buku yang
inspiratif banget. Mulai hari ini saya akan mengisi waktu luang dengan
menulis.”
Kristanti : “Baiklah, kamu juga akan ke
Fakultas Bahasa dengan Satria? Katanya mau move on?”
Aisyah : “Cieh, tapi tadi bilangnya
Fakultas Geologi? Gimana jadinya?”
Riani : “Ke Geologi aja, ni buku hanya
saya pakai biar saya bisa tulis novel best seler seluruh Indonesia. Kalau saya
terkenal pasti tulisan saya mahal dan banyak penggemar gitu."
Satu bulan kemudian, Riani dkk. mendaftarkan diri ke
Fakultas Geologi UGM melalui test SNM-PTN. Hasilnya mereka bertiga diterima
dengan nilai yang cukup memuaskan. Dan dua bulan setelah bulan itu,
akhirnya novel karya Riani selesai juga.
Riani : “Akhirnya novel nya selesai
juga. Bantu saya ya mengirimkan ke publisher.”
Aisyah : “Baiklah, ini email sudah
terkirim ke publiser-publiser. Kalau sudah terkenal tapi jangan lupa dengan
teman-teman ya?”
Kristanti : “Jangan lupa traktir kami di SS
atau di Cabe sepuasnya. Kalau nggak gitu nonton aja dah seharian.”
Riani : “So pasti. Kalau karya saya
jelek menurut orang-orang sana gimana?”
Aisyah : “Jangan mudah berputus asa gitu
deh. Semangat!”
Riani : “Ok deh. Ganbatte!”
Setelah
menunggu waktu beberapa hari bahkan bulan, banyak publisher yang menolak karya Riani. Banyak
email balasan yang mengungkapkan bahwa karya Riani sangat jelek dan tidak patut
dipasarkan. Hanya tersisa satu publiser yang belum kasih konfirmasi kepada
Riani malah mengajak ketemuan di tempat kerjanya.
Manajer : “Ini dengan Riani, penulis novel
Cintaku Bukan Diatas Kertas?” (membawa naskah yang dikirimkan Riani beberapa
bulan yang lalu)
Riani : “Iya ada apa dengan karya
saya?”
Manajer : “Mohon maaf ya, novel ini saya
kembalikan soalnya tidak menarik ceritanya sehingga mungkin tidak laku
dipasaran.” (menyerahkan naskah ke Riani)
Riani : “Oh begitu ya, nggak apa-apa
kalau begitu. Saya permisi dulu.”
Manajer : “Baiklah. Eh ini ada satu lembar
yang tersisa”. (menagmbil lembaran yang terjatuh, membaca sebentar dan
mengembalikannya ke Riani)
Riani : “Terima kasih.”
Riani
sudah berputus asa dan ingin merobek karyanya itu, namun dari arah belakang si
manajer yang mengajak ketemuan tadi teriak-teriak memanggil Riani.
Manajer : “Riani tunggu.” (teriak manajer)
Riani : “Maaf ada apa lagi.” (berbalik
arah)
Manajer : “Coba saya lihat bagian lembar yang
terakhir tadi.”
Riani : “Ini lembarnya.” (memberikan
lembaran ke manajer)
Manajer : “Menarik juga. Boleh saya ambil
karya nya? Mungkin bulan depan kita draft contrak dan novel ini akan
diterbitkan.”
Riani : “Serius pak?”
Manajer : “Iya serius, saya belum baca sampai
halaman ini sehingga saya kira naskah anda kurang menarik. Ternyata dibagian
akhir menarik pula. Mana naskahnya, biar diedit oleh editor kami.”
Riani : “Terima kasih pak kerja
samanya.”
Setelah
keluar kantor penerbitan novel yang sangat terkenal di Indonesia itu, Riani
menjadi sangat lega dan tidak jadi berputus asa lagi. Riani senyum melulu dari
perjalanan sampai menuju kamar kostnya.
Aisyah : “Hei Riani, hari ini saya lihat
kamu senyum melulu. Ada apa gerangan denganmu. Kamu bahagila ya hari ini?”
Riani : “Nggak apa-apa, hanya ada
berita sedikit yang membuat hati saya menjadi senang sekali.”
Kristanti : “Ada apa sih? Kamu sudah menemukan
jodoh yang baru ya?"
Riani : “ Bukan itu, saya masih tetap
jomblo sampai hari ini. Tidak ada cowok yang spesial menurut saya hari ini.”
Aisyah : “Terus apa kalau begitu.”
Riani : “Hemm, Novel saya bulan depan
diterbitkan.”
Aisyah : “Ah masa’? Kamu nggak bohong
kan?"
Riani : “Benar, nggak bakal bohong
saya.”
Kristanti : “Berarti nanti kita nanti ke SS
atau nonton?”
Riani : “Nonton aja deh, ada film
bagus tadi yaitu Pocong Bebek Angsa”
Semua : “Ok deh. Berangkat.”
Tunggu kisah selanjutnya ... (Menggapai OZON Part 2)
Title: Cerita Pendek Menggapai OZON Part 1 (Tugas Bahasa Indonesia); Written by Yudha Kristanto; Rating: 5 dari 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar