Pages

Rabu, 10 April 2013

Menggapai OZON Part 3 (End)


Tak terasa sebelum mencapai ketinggian 4000 meter hari sudah menjelang malam lagi. Perjalanan mereka harus berhenti lagi untuk beristirahat dan persiapan perjalanan besok yang ditargetkan bisa mencapai 6000 meter diatas permukaan laut.
Pagi ini perjalanan ditemani oleh kabut himalaya yang sangat tebal sehingga peserta harus menyalakan senternya. Titik pandang mata hanya berjarak kurang dari 10 meter saja dan hawa yang sangat dingin mendekati 0 derajat. Mulai siang kabut mulai menghilang dan cuaca cerah sekali. Pukul 14.00, rombongan hanya baru sampai ketinggian 5000 km. Di ketinggian ini lah tumbuh-tumbuhan seperti cemara, pinus, rerumputan Himalaya terakhir dijumpai. Semakin keatas hanya padang lumut, tanah berpasir dan salju.
Ricky : “Haus banget.”
Kristanti : “Sama.”
Riani : “Untungnya persediaan air masih banyak.”
Aisyah : “Alhamdulillah tapi air ini jangan sampai habis sebelum tiba puncak.”
Kristanti : “Kita harus berhemat air.”
Tiba-tiba rombongan digemparkan oleh Yeti, makhluk asli Himalaya yang tidak akan ditemukan di daerah manapun dan hanya orang beruntung saja bisa berjumpa dengan makhluk yang sangat jarang tersebut.
Terry : “Do you bring camera? Take some photos with this animal.”
Riani : “Of course, Ricky fotokan kami lagi ya.”
Ricky : “Baiklah nyonya narsis.” (mendesah)
Riani : “Ikhlas nggak fotokan kami?”
Ricky : “Ikhlas deh.”
Beberapa foto langka pun berhasil diambil, namun beberapa detik kemudian si Yeti yang misterius itu kembali menghilang.
Hari ketiga perjalanan ini dilalui dengan mulus sampai ketinggian 6500 kilometer. Pukul 22.00 waktu setempat tenda cewek digegerkan dengan Kristanti yang kebelet buang air kecil. Sampai-sampai semua cewek terbangun hanya untuk mengantar Kristanti buang air kecil.
Setelah Kristanti selesai buang air kecilnya, salah satu cewek melihat ada Harimau Asia yang datang menghampiri mereka. Mereka pun lari pontang-panting ketakutan menuju tenda dan membangunkan seluruh rombongan yang sebelumnya tertidur pulas.
Aisyah : “Harimau! Harimau datang kemari tolong.”
Ricky : “Mana harimaunya?”
Asiyah : “Itu.” (menunjuk ke arah harimau)
Dosen : “Semuanya tenang.”
Kristanti : “Mau tenang gimana pak ada harimau dibalik semak sana.”
Dosen : “Harimau nggak bakal kesini soalnya takut sama api unggun kita yang masih menyala.”
Kristanti : “Oh begitu ya.” (menggaruk kepala)
Dosen : “Ricky, Coba kamu lempar salah satu batang yang ada apinya kearah harimau itu.”
Ricky : “Baik pak.” (mengambil salah satu batang dan melempar ke arah semak membuat harimau menjauh)
Dosen : “Ya kan apa saya bilang, hewan buas itu takutnya sama api.”
Riani : “Tapi pak.”
Dosen : “Tapi apa?”
Riani : “Semaknya terbakar.” (menunjuk ke arah semak yang tadinya dilempari oleh batang api unggun yang masih meyala)
Dosen : “Astaga, cepat padamkan api.”
Ricky : “Gimana sih bapak, jadi begini deh.”
Dosen : “Ya maaf, ada sedikit kesalahan teknis.”
Setelah semak padam, semua melanjutkan tidurnya lagi. Hari ke-4 perjalanan menempuh padang lumut himalaya yang sangat luas membentang dari ketinggian 6500 sampai 7500 kilometer dari atas permukaan laut. Semakin keatas pemandangan India semakin kelihatan jelas. Di ketinggian 7000 kilometer, aliran sungai Gangga sudah mulai tampak. Perjalanan hari ini walaupun masih pukul 15.00 waktu setempat harus berakhir di ketinggian 8000 kilometer. Soalnya diatas ketinggian itu sudah membentang padang salju puncak Himalaya.
Dosen : “Anak-anak, perjalanan kita harus berakhir disini dulu.”
Riani : “Memang kenapa pak?”
Dosen : “Hanya daerah sini lah yang bisa dibangun tenda teakhir. Di atas sudah hamparan salju yang sering longsor dan tidak bisa dibangun tenda.”
Riani : “Oh begitu ya pak.”
Dosen : “Perjalanan kita besok harus sampai puncak sebelum pukul 12.00.”
Semua : “Siap pak."
Keesokan harinya adalah perjalanan terakhir rombongan pendaki Himalaya untuk menuju puncak Everest.
Dosen  : “Semua sudah siap? Mulai dari jaket tebal, sepatu, penghangat tubuh, tongkat, tali, dan semua alat yang saya suruh wajib bawa.”
Semua : “Sudah pak.”
Dosen : “Kita berangkat, sebelum kita mencapai puncak alangkah baiknya kita berdo’a dulu. Bedo’a mulai.”
Semua : “Amin.”
Dosen : “Hati-hati dalam perjalanan dikarenakan kawasan ini rawan longsor salju.”
Perjalanan tersulit orang-orang hebat pun dimulai. Mendaki sebuah Everest kalau tidak kuat mental dan tenaga pastinya tidak akan tercapai. Hanya beberapa orang saja di dunia yang berhasil ke puncak ini. Banyak yang berhenti di tengah jalan pula. Banyak juga yang mati kedinginan karena suhu udara mencapai minus 10 derajat celcius.
Riani : “Dingin, suhu berapa sih.”
Asiyah : “-8 derajat celcius untuk waktu ini, tadi pagi sekitar pukul 05.00, suhu udara mencapai -25 derajat celcius.” (melihat termometer)
Riani : “Ekstrim banget.”
Tanpa sadar rombongan yang lebih awal tidak hati-hati mendaki menyebabkan bongkahan salju longsor menimpa rombongan yang ada dibawahnya. Tepat di depan mata Riani bongkahan salju besar itu menggelinding turun.
Semua : “Awas longsor.”
Ricky : “Riani awas.” (melempar tubuh Riani ke arah lajur yang tidak dilalui longsoran salju, akan tetapi sebelum dirinya sendiri malah tertimpa bongkahan salju.”
Riani : “Ricky! Semuanya tolong! Ada yang terluka.” (meneteskan air mata)
Ricky : “Saya tidak apa-apa kok.” (memegang kepalanya yang sakit).
Riani : “Kamu dari awal perhatian banget sama saya. Maaf kalau merepotkan lagi. Kepalamu juga berdarah.”
Kristanti : “Riani, ini plester buat menutup lukanya Ricky.”
Riani : “Terima kasih.” (merekatkan plester)
Ricky : “Aduh.”
Riani : “Kenapa? Sakit ya?”
Ricky : “Sedikit."
Riani : “Maaf ya sangat merepotkan.”
Ricky : “Sudah biasa itu.”
Perjalanan hanya beberapa langkah lagi sudah sampai puncak Everest. Akhirnya pukul 11.57 waktu setempat semua rombongan telah sampai di puncak pegunungan tertinggi di dunia.
Riani : “Akhirnya perjuangan kita tidak sia-sia.”
Aisyah : “Huh, sangat melelahkan tapi setelah puncak capek menjadi hilang."
Ricky : “Pemandangan di bawah sangat indah. Dunia serasa kecil disini.”
Kristanti : “Benar-benar menakjubkan. Keingat mimpi kita waktu SMA dulu.”
R & A  : “Apa?”
Kristanti : “Menyentuh OZON.”
Riani : “Oh iya, menurut buku besar geografi kita, disinilah OZON berada. Lapisan inilah yang melindungi makhluk di bumi dari radiasi sinar UV matahari.”
Aisyah : “Ulurkan tangan kita kedepan dan pegang OZON.” (mengulurkan tangan yang kemudian diikuti Riani dan Kristanti)
Kristanti : “Benar kan, kita bisa membuktikan mimpi kita yang dulu selalu  diremehkan orang lain.”
Riani : “Matahari seperti kelereng yang tepat berada diatas kepala kita.”
Dosen : “Seminggu kemudian hasil penelitian dikumpulkan.”
Semua : “Pak kita nggak meneliti.”
Dosen : “Gimana sih, kan tujuan kita kesini awalnya meneliti, bukan tamasya.”
Semua : “Ye lah, baiklah pak. Simpel aja ya pak. Kita bawa tanahnya aja ke Indonesia. Kita teliti disana.”
Dosen : “Terserah kalian pokoknya saya menerima makalahnya semingggu kemudian. Nggak boleh terlambat.”
Semua : “Iya bapak. Kami sudah tahu.”
Di lain sisi Ricky mengajak bicara Riani.
Ricky : “Riani, boleh tanya sesuatu.”
Riani : “Apa?”
Ricky : “Em, tentang perasaan.”
Riani : “Ungkapin aja.”
Ricky : “Sebenarnya saya suka sama kamu.”
Riani : “Apa?” (terkejut)
Ricky : “Beneran, yang ada di hati saya waktu kita bicara kemarin malam adalah kamu. Makanya kali ini saya akan mengungkapkan mumpung kita masih ada di puncak."
Riani : “Beneran, serius kah.” (meneteskan air mata)
Ricky : “Serius ini.”
Riani : “Baiklah, saya terima permintaan ini karena sebelumnya saya juga ada rasa yang sama kepada kamu.”
K & A : “Cieh benarkan apa yang kita bicarakan selama ini. Akhirnya mereka berdua jadian beneran."
Akhir cerita ternyata memang mimpi itu tidak akan kemana. Dengan tekad yang bulat dan mantap akhirnya mimpi yang berat akan terealisasikan. Menyentuh OZON ternyata bukanlah hal yang sulit seperti banyak orang awam yang bicarakan
Sebulan setelah hari ini, Riani rasanya ingin merenung di tepi kolam Fakultas Geologi, memandangi senja yang akan berubah jadi malam. Entah mengapa, Satria mengetahui itu dan datang ke Riani membawa kuncup bunga teratai yang diambilnya dari kolam Fakultas Bahasa.
Satria : "Tumben galau."
Riani : "Iya nih, kok rasanya ingin galau ya."
Satria : "Boleh tanya sesuatu nggak?"
Riani : "Apa?"
Satria : "Aku cinta kamu."
Riani : "Maaf ya, kemarin waktu di puncak Everest saya telah jadian sama seseorang yang lebih setia."
Satria : "Oh begitu ya, permisi kalau begitu."
Riani : "Tunggu, bunga terataimu jatuh."
Satria : "Itu untukmu saja, simpan saja kalau mau."
Riani : "Terima kasih."
Riani tidak menyimpan bunga teratai itu, malah dia menaruhnya di kolam sebagai penghias kolam Fakultas Geologi yang sebelumnya hanya dihiasi oleh ganggang saja.
Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar