Tak terasa sebelum mencapai ketinggian 4000 meter hari
sudah menjelang malam lagi. Perjalanan mereka harus berhenti lagi untuk
beristirahat dan persiapan perjalanan besok yang ditargetkan bisa mencapai 6000
meter diatas permukaan laut.
Pagi
ini perjalanan ditemani oleh kabut himalaya yang sangat tebal sehingga peserta
harus menyalakan senternya. Titik pandang mata hanya berjarak kurang dari 10
meter saja dan hawa yang sangat dingin mendekati 0 derajat. Mulai siang kabut
mulai menghilang dan cuaca cerah sekali. Pukul 14.00, rombongan hanya baru
sampai ketinggian 5000 km. Di ketinggian ini lah tumbuh-tumbuhan seperti
cemara, pinus, rerumputan Himalaya terakhir dijumpai. Semakin keatas hanya
padang lumut, tanah berpasir dan salju.
Ricky : “Haus banget.”
Kristanti : “Sama.”
Riani : “Untungnya persediaan air
masih banyak.”
Aisyah : “Alhamdulillah tapi air ini
jangan sampai habis sebelum tiba puncak.”
Kristanti : “Kita harus berhemat air.”
Tiba-tiba
rombongan digemparkan oleh Yeti, makhluk asli Himalaya yang tidak akan
ditemukan di daerah manapun dan hanya orang beruntung saja bisa berjumpa dengan
makhluk yang sangat jarang tersebut.
Terry : “Do you bring camera? Take
some photos with this animal.”
Riani : “Of course, Ricky
fotokan kami lagi ya.”
Ricky : “Baiklah nyonya narsis.”
(mendesah)
Riani : “Ikhlas nggak fotokan kami?”
Ricky : “Ikhlas deh.”
Beberapa
foto langka pun berhasil diambil, namun beberapa detik kemudian si Yeti yang
misterius itu kembali menghilang.
Hari
ketiga perjalanan ini dilalui dengan mulus sampai ketinggian 6500 kilometer.
Pukul 22.00 waktu setempat tenda cewek digegerkan dengan Kristanti yang kebelet
buang air kecil. Sampai-sampai semua cewek terbangun hanya untuk mengantar
Kristanti buang air kecil.
Setelah
Kristanti selesai buang air kecilnya, salah satu cewek melihat ada Harimau Asia
yang datang menghampiri mereka. Mereka pun lari pontang-panting ketakutan
menuju tenda dan membangunkan seluruh rombongan yang sebelumnya tertidur pulas.
Aisyah : “Harimau! Harimau datang kemari
tolong.”
Ricky : “Mana harimaunya?”
Asiyah : “Itu.” (menunjuk ke arah
harimau)
Dosen : “Semuanya tenang.”
Kristanti : “Mau tenang gimana pak ada harimau
dibalik semak sana.”
Dosen : “Harimau nggak bakal kesini
soalnya takut sama api unggun kita yang masih menyala.”
Kristanti : “Oh begitu ya.” (menggaruk kepala)
Dosen : “Ricky, Coba kamu lempar salah
satu batang yang ada apinya kearah harimau itu.”
Ricky : “Baik pak.” (mengambil salah
satu batang dan melempar ke arah semak membuat harimau menjauh)
Dosen : “Ya kan apa saya bilang, hewan
buas itu takutnya sama api.”
Riani : “Tapi pak.”
Dosen : “Tapi apa?”
Riani : “Semaknya terbakar.” (menunjuk
ke arah semak yang tadinya dilempari oleh batang api unggun yang masih meyala)
Dosen : “Astaga, cepat padamkan api.”
Ricky : “Gimana sih bapak, jadi begini
deh.”
Dosen : “Ya maaf, ada sedikit kesalahan
teknis.”
Setelah
semak padam, semua melanjutkan tidurnya lagi. Hari ke-4 perjalanan menempuh
padang lumut himalaya yang sangat luas membentang dari ketinggian 6500 sampai
7500 kilometer dari atas permukaan laut. Semakin keatas pemandangan India
semakin kelihatan jelas. Di ketinggian 7000 kilometer, aliran sungai Gangga
sudah mulai tampak. Perjalanan hari ini walaupun masih pukul 15.00 waktu
setempat harus berakhir di ketinggian 8000 kilometer. Soalnya diatas ketinggian
itu sudah membentang padang salju puncak Himalaya.
Dosen : “Anak-anak, perjalanan kita
harus berakhir disini dulu.”
Riani : “Memang kenapa pak?”
Dosen : “Hanya daerah sini lah yang bisa
dibangun tenda teakhir. Di atas sudah hamparan salju yang sering longsor dan
tidak bisa dibangun tenda.”
Riani : “Oh begitu ya pak.”
Dosen : “Perjalanan kita besok harus
sampai puncak sebelum pukul 12.00.”
Semua : “Siap pak."
Keesokan
harinya adalah perjalanan terakhir rombongan pendaki Himalaya untuk menuju
puncak Everest.
Dosen : “Semua sudah siap? Mulai dari
jaket tebal, sepatu, penghangat tubuh, tongkat, tali, dan semua alat yang saya
suruh wajib bawa.”
Semua : “Sudah pak.”
Dosen : “Kita berangkat, sebelum kita
mencapai puncak alangkah baiknya kita berdo’a dulu. Bedo’a mulai.”
Semua : “Amin.”
Dosen : “Hati-hati dalam perjalanan
dikarenakan kawasan ini rawan longsor salju.”
Perjalanan
tersulit orang-orang hebat pun dimulai. Mendaki sebuah Everest kalau tidak kuat
mental dan tenaga pastinya tidak akan tercapai. Hanya beberapa orang saja di
dunia yang berhasil ke puncak ini. Banyak yang berhenti di tengah jalan pula.
Banyak juga yang mati kedinginan karena suhu udara mencapai minus 10 derajat
celcius.
Riani : “Dingin, suhu berapa sih.”
Asiyah : “-8 derajat celcius untuk waktu
ini, tadi pagi sekitar pukul 05.00, suhu udara mencapai -25 derajat celcius.”
(melihat termometer)
Riani : “Ekstrim banget.”
Tanpa
sadar rombongan yang lebih awal tidak hati-hati mendaki menyebabkan bongkahan
salju longsor menimpa rombongan yang ada dibawahnya. Tepat di depan mata Riani
bongkahan salju besar itu menggelinding turun.
Semua : “Awas longsor.”
Ricky : “Riani awas.” (melempar tubuh
Riani ke arah lajur yang tidak dilalui longsoran salju, akan tetapi sebelum
dirinya sendiri malah tertimpa bongkahan salju.”
Riani : “Ricky! Semuanya tolong! Ada
yang terluka.” (meneteskan air mata)
Ricky : “Saya tidak apa-apa kok.”
(memegang kepalanya yang sakit).
Riani : “Kamu dari awal perhatian
banget sama saya. Maaf kalau merepotkan lagi. Kepalamu juga berdarah.”
Kristanti : “Riani, ini plester buat menutup
lukanya Ricky.”
Riani : “Terima kasih.” (merekatkan
plester)
Ricky : “Aduh.”
Riani : “Kenapa? Sakit ya?”
Ricky : “Sedikit."
Riani : “Maaf ya sangat merepotkan.”
Ricky : “Sudah biasa itu.”
Perjalanan
hanya beberapa langkah lagi sudah sampai puncak Everest. Akhirnya pukul 11.57
waktu setempat semua rombongan telah sampai di puncak pegunungan tertinggi di
dunia.
Riani : “Akhirnya perjuangan kita
tidak sia-sia.”
Aisyah : “Huh, sangat melelahkan tapi
setelah puncak capek menjadi hilang."
Ricky : “Pemandangan di bawah sangat
indah. Dunia serasa kecil disini.”
Kristanti : “Benar-benar menakjubkan. Keingat
mimpi kita waktu SMA dulu.”
R
& A : “Apa?”
Kristanti : “Menyentuh OZON.”
Riani : “Oh iya, menurut buku besar geografi
kita, disinilah OZON berada. Lapisan inilah yang melindungi makhluk di bumi
dari radiasi sinar UV matahari.”
Aisyah : “Ulurkan tangan kita kedepan dan
pegang OZON.” (mengulurkan tangan yang kemudian diikuti Riani dan Kristanti)
Kristanti : “Benar kan, kita bisa membuktikan
mimpi kita yang dulu selalu diremehkan
orang lain.”
Riani : “Matahari seperti kelereng
yang tepat berada diatas kepala kita.”
Dosen : “Seminggu kemudian hasil
penelitian dikumpulkan.”
Semua : “Pak kita nggak meneliti.”
Dosen : “Gimana sih, kan tujuan kita
kesini awalnya meneliti, bukan tamasya.”
Semua : “Ye lah, baiklah pak. Simpel aja
ya pak. Kita bawa tanahnya aja ke Indonesia. Kita teliti disana.”
Dosen : “Terserah kalian pokoknya saya
menerima makalahnya semingggu kemudian. Nggak boleh terlambat.”
Semua : “Iya bapak. Kami sudah tahu.”
Di
lain sisi Ricky mengajak bicara Riani.
Ricky : “Riani, boleh tanya sesuatu.”
Riani : “Apa?”
Ricky : “Em, tentang perasaan.”
Riani : “Ungkapin aja.”
Ricky : “Sebenarnya saya suka sama
kamu.”
Riani : “Apa?” (terkejut)
Ricky : “Beneran, yang ada di hati
saya waktu kita bicara kemarin malam adalah kamu. Makanya kali ini saya akan
mengungkapkan mumpung kita masih ada di puncak."
Riani : “Beneran, serius kah.” (meneteskan
air mata)
Ricky : “Serius ini.”
Riani : “Baiklah, saya terima
permintaan ini karena sebelumnya saya juga ada rasa yang sama kepada kamu.”
K
& A : “Cieh benarkan apa
yang kita bicarakan selama ini. Akhirnya mereka berdua jadian beneran."
Akhir
cerita ternyata memang mimpi itu tidak akan kemana. Dengan tekad yang bulat dan
mantap akhirnya mimpi yang berat akan terealisasikan. Menyentuh OZON ternyata
bukanlah hal yang sulit seperti banyak orang awam yang bicarakan
Sebulan setelah hari ini, Riani rasanya ingin merenung di tepi kolam Fakultas Geologi, memandangi senja yang akan berubah jadi malam. Entah mengapa, Satria mengetahui itu dan datang ke Riani membawa kuncup bunga teratai yang diambilnya dari kolam Fakultas Bahasa.
Satria : "Tumben galau."
Riani : "Iya nih, kok rasanya ingin galau ya."
Satria : "Boleh tanya sesuatu nggak?"
Riani : "Apa?"
Satria : "Aku cinta kamu."
Riani : "Maaf ya, kemarin waktu di puncak Everest saya telah jadian sama seseorang yang lebih setia."
Satria : "Oh begitu ya, permisi kalau begitu."
Riani : "Tunggu, bunga terataimu jatuh."
Satria : "Itu untukmu saja, simpan saja kalau mau."
Riani : "Terima kasih."
Riani tidak menyimpan bunga teratai itu, malah dia menaruhnya di kolam sebagai penghias kolam Fakultas Geologi yang sebelumnya hanya dihiasi oleh ganggang saja.
Sekian.
Title: Menggapai OZON Part 3 (End); Written by Yudha Kristanto; Rating: 5 dari 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar