Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima dan
difardhukan bagi setiap Muslim yang mampu, baik dalam bentuk kesanggupan
kesehatan fisik, ekonomi, tanggung jawab keluarga yang ditinggalkan, hingga
keamanan dalam perjalanan. Ibadah haji juga mengandung hikmah atau nilai-nilai
falsafah yang sarat makna bagi setiap hamba yang melaksanakannya.
Dengan begitu, ibadah haji tidak sekadar ibadah
ritual, tetapi nilai-nilai falsafah yang ada di dalamnya patut direnungkan
sehingga berpengaruh terhadap perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai
makna atau falsafah ibadah haji, telah dibahas oleh beberapa pemikir atau ulama
terdahulu. Salah satu di antaranya adalah Ali Syari'ati yang tertulis dalam
karyanya Haji. Dalam karya ini, ia menyingkap simbol-simbol yang
terdapat dalam rangkaian ibadah haji dengan mengungkap nilai-nilai moral yang
dikandungnya.
1.
Pakaian Ihram
Ketika jamaah haji sampai di Miqat, mereka mengenakan
pakaian ihram dengan kaki telanjang tanpa terkecuali. Pakaian ini warnanya
putih, tidak berjahit dan bahan dasar kainnya pun sangat sederhana. Meskipun
kaya, tidak diperkenankan memakai pakaian sutra. Perintah ini mengingatkan akan
eksistensi manusia yang tidak memiliki apa-apa. Kelak manusia mati untuk
menghadap Tuhannya tidak membawa harta apa pun, hanya sehelai kain kafan yang
berwarna putih, tanpa alas kaki.
Putihnya pakaian ihram melambangkan kesucian
dan kesederhanaan. Ketika pakaian ini dipakai, buangkan segala sifat
kesombongan, keangkuhan, egoisme, dan segala penyakit hati yang merusak.
Pakaian adalah lambang perbedaan. Perbedaan seseorang
sering di lihat dari pakaiannya. Ketika muncul perbedaan, kerap mengundang
perpecahan. Padahal, perpecahan awal dari kehancuran sebuah peradaban. Pakaian
ihram menghapus segala lambang perbedaan yang merusak persaudaraan,
mengurai persatuan dan kesatuan itu. Perbedaan secara fisik memang alami, tidak
bisa dihilangkan, tetapi tidak untuk merusak kebersamaan dan persaudaraan.
2.
Thawaf dan Kabah
Thawaf adalah mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali.
Kabah menjadi inti dari perputaran tersebut. Kabah kiblat seluruh umat Islam.
Apa istimewanya? Sepintas tidak ada keistimewaannya. la hanya berbentuk kubus
yang memiliki enam sisi dan kosong yang tersusun dari batu-batu hitam dari Ajun
(bukit-bukit di dekat Kota Makkah). Jika direnungkan, enam sisi yang ada
merupakan lambang Islam itu universal. Enam sisi menghadap ke segala arah.
Kemudian, Kabah melambangkan ketetapan (konstan) sebab dia hanya
diam. Manusia lah yang bergerak (aktif) mengitarinya.
Kabah ibarat matahari. Manusia ibarat planet yang
mengitari matahari tersebut. Itu artinya, Allah pusat eksistensi yang merupakan
titik fokus dari dunia yang fana ini. Manusia mesti bergerak, beraktivitas,
berbuat dan bersikap mesti berpusat kepada kehendak-Nya. Di sinilah terlihat
eksistensi manusia yang harus bergerak dan berbaur dengan manusia lain secara
bersama dengan mengenakan pakaian ihram secara disiplin. Jika seseorang diam,
tidak bergerak, maka pada hakikatnya ia telah mati, bukan manusia yang
sesungguhnya.
Pelaksanaan thawaf bermula dari Hajar Aswad. Di sana
juga terdapat Hijir Ismail. Simbol ini mengingatkan kita kembali tentang Hajar,
istri Ibrahim. Hajar adalah sahaya yang berkulit hitam dari Ethiopia yang
diperistri Ibrahim. Karena kecintaannya kepada Allah, Hajar menjadi nama yang
melekat dan sangat berpengaruh dalam rangkaian ibadah haji. Meskipun ia hanya
hamba sahaya, bisa jadi dinilai orang hina, lagi berkulit hitam, tetapi dengan
iman dan cinta yang dimilikinya mengangkat dirinya menjadi mulia di sisi Allah.
Simbol ini memberikan pesan moral kepada umat manusia
bahwa sehina apa pun seseorang di mata manusia, tetapi dengan keimanan dan
kecintaannya kepada Allah SWT akan terangkat derajatnya menjadi mulia di sisi
Allah, bahkan di mata manusia sesudahnya. Maka jangan mudah merendahkan, menghina,
maupun memperolok saudara sendiri.
Thawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran. Angka
tujuh ini mengingatkan kita kepada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
Artinya, manusia adalah wakil Allah di muka bumi yang bertanggung jawab
mengelola alam semesta ini, memanfaatkan semua potensi yang ada, tetapi bukan
mengeksploitasinya.
Awal thawaf dimulai dengan bismillahi
Allahuakbar sambil menyentuh atau menghadapkan telapak tangan kanan kita ke
arah Hajar Aswad yang melambangkan Pencipta. Kemudian thawaf
7 putaran yang melambangkan putaran tujuh langit yang mengelilingi Arsy
Allah. Thawaf menggambarkan kebebasan manusia beraktifitas. Namun
aktiftas itu tetaplah harus berada dalam orbit aturan Allah yaitu berlawanan
dengan arah jarum jam atau yang kita kenal dengan bergerak kerarah kiri.
Sedangkan apa yang diucapkannya, seperti
takbir, dzikir dan do'a, zhahirnya adalah mengingat Allah. Sedangkan mencium
Hajar Aswad adalah ibadah. Sebab seseorang mencium sebongkah batu yang tak
memiliki hubungan kecuali dengan ibadah kepada Allah, dengan cara
mengagungkan-Nya dan mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sebagaimana yang pernah diriwayatkan, bahwa Amirul Mukminin Umar bin
Al-Khaththab berkata tatkala mencium Hajar Aswad, "Aku benar-benar tahu
bahwa engkau hanyalah sekedar batu yang tidak bisa memberi madharat dan tidak
pula manfaat. Kalau tidak karena aku melihat Nabi menciummu, aku tak kan sudi
menciummu." Tentang anggapan sebagian orang-orang yang bodoh, bahwa hal
itu dimaksudkan untuk memohon barakah dengannya, maka anggapan itu tidak ada
dasarnya sama sekali dan batil.
3.
Antara Safa dan Marwa
Sai merupakan sebuah pencarian. lbadah ini memiliki
nilai historis tersendiri, di mana Hajar yang telantar dan terbuang di antara hamparan
padang pasir, tanpa pepohonan dan air sebagai sumber kehidupan. Sementara, ia
mesti tetap hidup, terlebih lagi ketika melihat buah hatinya, Ismail.
Sai adalah lambang perjuangan fisik, perjuangan mencari hal-hal yang
dapat memenuhi kebutuhan dari alam. Jika pada thawaf lebih melambangkan gerak
atas kecintaan manusia kepada al-Khaliq,
bersifat spritual, sebaliknya pada sai lebih melambangkan gerak
atas upayanya memenuhi kebutuhan hidup secara materi.
Pada thawaf yang menjadi inti adalah ''Dia'' dan hanya
Allah. Pada sai yang menjadi intinya adalah manusia itu sendiri. Manusia yang
menentukan nasibnya di muka bumi ini (QS Ar-Ra'd: 13). Di sini tampak Islam
menuntun manusia mencari dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat secara
seimbang (QS Al-Qashashas: 77). Manusia tidak boleh fatalis, pesimis, dan
menyerah kepada nasib. Tapi sai mengajarkan manusia untuk berjuang, berijtihad memiliki
semangat, vitalitas, dan optimisme.
Sai dilakukan juga tujuh kali yang dimulai dan Safa
dan berakhir di Marwa. Bukan di Safa lagi. Ini menunjukkan manusia dalam geraknya mesti
tetap maju ke depan. Gerak (dinamis) secara bersama ini akan
mengantarkannya kepada khaira ummah.
Islam mesti menjadi umat terbaik di muka bumi ini dalam mengusung peradaban,
menyejahterakan alam.
Ali Shari'ati menyebutkan: ''Thawaf adalah lambang hidup
bukan demi hidup itu sendiri tetapi demi Allah. Sedangkan sai melambangkan
berdaya upaya sebisa-bisanya bukan untuk diri sendiri tetapi untuk semua
manusia. Jalan yang engkau tempuh adalah jalan yang lurus dan tidak merupakan
lingkaran. Engkau tidak bergerak secara berputar-putar tetapi engkau bergerak
maju.''
4.
Arafah, Masyri, dan Mina
Setelah melaksanakan thawaf dan sai, jamaah bergerak
ke timur menuju Arafah, lalu Masy'ar dan Mina. Arafah melambangkan awal
penciptaan manusia. Di padang inilah Allah mempertemukan Adam dan Hawa
setelah masa pembuangan atas dosa yang mereka lakukan. Arafah artinya pengetahuan
dan sains. Masy'ar artinya kesadaran dan pengertian, sedangkan
Mina artinya cinta dan keyakinan.
Di padang Arafah ini mereka wukuf yang melambangkan pencarian
pengetahuan pemahaman, di mana Adam dan Hawa bertemu dan saling
mengetahui antara keduanya. Ketika membuka mata dan mendapatkan dirinya dalam
keadaan telanjang Adam sudah berada di dalam keadaan mengetahui dirinya
sendiri.
Setelah wukuf, jamaah bergerak menuju Masy'ar, negeri
kesadaran. Di sini manusia merenungi dirinya sehingga muncul
kesadaran tentang dirinya, didasari dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Di siang harinya mereka pun menuju Mina, sebagai negeri cinta. Cinta
dan keyakinan akan adanya Allah SWT, mereka melontar jumrah. Pelemparan
jumrah melambangkan peperangan terhadap setan, di mana setan telah menggoda
Ibrahim untuk menghalangi cintanya kepada Allah yang akan mengorbankan Ismail.
Setan musuh manusia yang nyata.
Wukuf di Arafah atau berdiam diri di
Padang Arafah bermakna pengenalan. Saat inilah seorang
muslim diharapkan bisa lebih mengenali dirinya dan Allah sebagai Rabbnya
dengan berdiam, merenung, introspeksi dan bertaubat.
Melontar Jumrah berkaitan dengan kisah
Ibrahim A.S. yang melempari setan yang menggoda dirinya agar
mengabaikan perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail A.S.
Inilah simbol perlawanan sepanjang umur manusia terhadap setan. Melontar
Jamrah adalah simbol kutukan kepada unsur kejahatan yang sering
membinasakan manusia. Melontar juga membayangkan keazaman dan
tekad untuk tidak lagi melakukan amalan yang mendatangkan bahaya kepada diri
sendiri dan masyarakat.
5.
Kurban
lbadah yang juga dilakukan dalam haji ini adalah
kurban. Kurban juga lambang kecintaan seorang hamba kepada Allah.
lbadah ini kembali mengingatkan kita kepada ujian Allah kepada Ibrahim untuk
mengorbankan putranya, Ismail. Namun, dengan pendidikan tauhid yang telah
dibina lbrahim dalam keluarganya, tak satu pun anggota keluarga yang sakinah
itu memberontak keputusan Ibrahim yang berdasarkan wahyu Tuhan itu.
Ibrahim berdiaolog dengan putranya, dan sang anak pun
mengatakan: ''Ya Abati if'al ma tu'mar, satajiduni Insya Allahu
minasshabirin'' (Hai Ayahku! Laksanakanlah perintah Allah itu, insya Allah
ayah akan menemukan aku dalam kesabaran). Ibrahim pun dengan yakin dan
kecintaannya kepada Allah melaksanakan perintah itu. lbadah ini juga memesankan kepada
manusia untuk rela mengorbankan segala apa yang telah dititipkan Allah, apakah
berupa harta, jabatan, nama, dan sebagainya.
Tahallul berarti’’ menjadi
halal/boleh’’ setelah melakukan serangkaian amalan ibadah haji atau umrah.
Tahallul merupakan rangkain terahir pelaksanaan haji dan umrah. Orang bisa
dikatakan tahallul, jika sudah melaksanakan semua rangkaian ibadah haji,
setelah diharamkan (ihram) selama beberapa hari. Setelah tahallul, semua yang
dilarang diperbolehkan (bebaskan). Tahallul bisa dengan mencukur gundul,
atau memotong sebagaian rambutnya. Minimal, tiga helai rambut,
disunnahkan tiga kali memotong. Karena tiga adalah witir (ganjil), dan
Allah SWT menyukai seseuatu yang ganjil. Sedangkan bagi wanita, hanya tiga
helai saja. Sebagian ulama berpendapat bahwa Tahalllul itu wajib, selama
belum tahallul dengan ditandai mencukur rambut. Maka, seseorang masih dalam
kondisi ihram, yang berarti larangan-larangan itu tetap berlaku.
Di dalam ilmu hikmah (Filsafat
Haji), tahallul bukan hanya sekedar memotong rambut, sebagaimana Nabi
ajarakan kepada para pengikutnya. Lebih dalam lagi, tahallul itu memiliki
falsafah mendalam, yaitu mennghilangkan pikiran-pikiran kotor yang ada di dalam
otak manusia. Dengan mencukur rambut hingga pelontos, atau mencukur rambut,
diharapakan maksiat-maksiat yang bersumber dari kepala (otak) bisa dihilang
bersama rambut yang dibuang.
Title: Filosofi Serangkaian Ibadah Haji; Written by Yudha Kristanto; Rating: 5 dari 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar