Selasa, 09 April 2013

Menggapai OZON Part 2

Maybe I was too scared that it was too much of a love for me to receive
Maybe I was sorry that there wasn’t anything I could do for you.
But just be sure to know this, just trust in my love.

Beberapa waktu kemudian mereka sekarang menjadi mahasiswa Fakultas Geologi UGM Semester 2. Dan pada hari ini lah, ada kejutan spesial bagi Riani, Kristanti, dan Aisyah untuk mewujudkan mimpi mereka, yaitu MENGGAPAI OZON.
Dosen : “Selamat pagi, ada berita yaitu minggu depan UGM bekerja sama dengan Havard akan mengadakan penelitian yang sangat tidak biasa. Hanya 10 anak saja dan 5 dosen saja yang akan berangkat kesana.”
Ricky : “Mau kemana pak, kelihatannya asik juga."
Dosen : “Kalian mau tahu atau pakai banget."
Semuanya : “Ya pakai banget lah pak, masa pakai sambal."
Dosen : “Baiklah saya jelaskan. Minggu depan bagi nama-nama yang ditunjuk akan berangkat ke Nepal, kita akan mengkaji tanah dan bebatuan yang ada di pengunungan Himalaya.”
Ricky : “Benar pak? Asik sekali donk, kita bakalan di titik tetinggi dunia.”
Aisyah : “Teringat buku yang dibeli Kristanti tentang “Ozon di Himalaya”. Kalau kita bertiga ikut kesana pasti kita benar-benar membuktikan mimpi kita.”
Kristanti : “Benar juga tuh. Asik deh kelihatanya. Kalau kita sampai puncak maka kita akan menyentuh Ozon.”
Dosen : “Menurut prestasi kalian di semester 1, maka 10 anak yang memiliki nilai tertinggi yang akan kesana yaitu, Cucok, Rumpi, Rempong, Supong, Dugong, Fray, Ricky, Aisyah, Kristanti, dan Riani.” (sambil menunjuk satu per satu anak yang akan berangkat ke Nepal)
Riani : “Kita bertiga disebutkan. Apakah ini mimpi atau kenyataan?” (mencubit pipinya sendiri)
Aisyah : “Aku jadi lemas kalau begini.”
Kristanti : “Aku nggak bisa menolaknya juga nggak bisa berkata apa-apa."
Dosen : “Saya tunggu nanti jam 5 sore untuk TM. Kalau tidak datang maka saya anggap mengundurkan diri dan digantikan oleh mahasiswa yang lain.”
Semuanya : “Baiklah pak. Kami siap.”
Seminggu kemudian, mereka semua berkumpul di tempat yang sudah dijanjikan semula waktu TM yaitu di bandara Juanda.  Setelah sebelumnya mengurus pasport dan membeli tiket, tepat pukul 09.00 Asia Airlines terbang tinggi diatas tanah Indonesia menuju tanah Nepal. Pukul 06.00 WIB atau pukul 04.30 Waktu Nepal, pesawat mendarat di bandara Kathmandu dengan selamat.
Dosen : “Inilah Nepal dan dibelakang itu adalah pemandangan pegununan tertinggi di dunia dengan puncaknya yaitu Everest dengan ketinggian 8888 mdpl.”
Aisyah : “Sangat indah ya. Akankah kita benar-benar bisa sampai disana?”
Riani : “Kalau ada tekad pasti berbuah hasil. Kita buktikan mimpi kita akan tercapai.”
Dosen : “Terserah kalian meneliti tanah yang bagian mana atau kalian mau meneliti kandungan salju diatas sana. Ada waktu sekitar 2 minggu untuk penelitian dan pendakian untuk kalian.”
Ricky : “Asik donk. Kapan mulai pendakian pak?”
Dosen : “Besok pagi sekitar pukul 09.00 Waktu Nepal. Untuk hari ini kita check in di hotel dulu untuk istirahat."
Semuanya : “Baiklah pak.”
Keesokan harinya semua peserta penelitian dari Havard dan UGM bersiap-siap untuk mendaki. Mereka sudah memakai pakaian yang tebal, peralatan kemah, juga membahwa perbekalan yang cukup.
Riani : “Pak, kita dapat sampai puncak jam berapa ya?”
Dosen : “Mungkin sekitar 5 hari kedepan.”
Aisyah : “Apa? Lima hari pak?”
Dosen : “Ya benar, kalian fikir perjalanan pendakian ini mudah? Medan yang kita lalui ini lebi berat daripada kita mendaki gunung-gunung di Indonesa.”
Semua : “O begitu ya.”
Dosen : “Ayo mulai mendaki, sudah cukup jauh ditinggalkan sama mahasiswa Havard loh.”
Setelah percakapan itu, tidak ada perbincangan lagi. Tatapan mata hanya ke arah depan dengan tengokan leher ke atas menatap gagahnya puncak Everest yang siap diinjaki oleh para petualang dari Indonesia ini. Tak terasa matahari sudah mulai bersembunyi di punggung pegunungan Himalaya yang membujur dari timur menuju barat dan berbelok ke utara.
Riani : “Capek juga ya.”
Ricky : “Masih perjalan segini aja sudah capek.”
Aisyah : “Sudah berapa kilo sih ini pak?”
Dosen : “Masih satu setengah dari atas permukaan laut. Belum terlihat apa-apa disini. Sudah mulai malam kita dirikan tenda dulu aja.”
Perjalanan hari ini pun hanya berhenti di 1,5 kilometer dpl. Belum tampak dari sini hamparan tanah India yang begitu luas dan indah. Jam tangan sudah bergerak menuju pukul 20.00 waktu setempat. Semua peserta sudah beristirahat karena kecapekan dan mempersiapkan energi untuk mendaki lagi keesokan harinya. Hanya Raisha dan Kristanti yang masih bertahan menikmati secangkir kopi susu dan berhangat dekat api unggun yang masih menyala.
Riani : “Nggak enak ya mendaki tanpa mengajak pacar.”
Kristanti : “Sama. Tapi bagaimana lagi, takdir berkata seperti itu.”
Riani : “Kita nikmatin saja yang ada."
Kristanti : “Lama ya kita nggak bahas Satria lagi.”
Riani : “Jangan bahas itu, saya nggak suka.”
Kristanti : “Ya udah deh."
Tak berapa lama Ricky ikut-ikutan nimbrung yang sebelumnya telah mendengar samar-samar percakapan mereka  berdua dari dalam tenda.
Ricky : “Belum tidur?”
Riani : “Belum.”
Ricky : “Lagi galau ya tentang pacar”
Kristanti : “Iya nih.”
Ricky : “Kalau begitu sama.”
Kristanti : “Kamu juga masih single?”
Ricky : “Iya, dulunya saya juga mengejar cewek tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya.”
Riani : “Berarti kita bertiga dan Aisyah yang sudah kayak badak tidur bernasib sama donk.”
Ricky : “Tapi sekarang saya punya rasa sama seseorang, tapi saya sulit mengungkapkannya."
Kristanti : “Ya ungkapin saja, kan setiap orang memiliki sifat yang beda. Mungkin yang satu ini bisa menerimamu.”
Ricky : “Saya nggak punya modal untuk mengatakan hal itu.”
Riani : “Sebenarnya cinta itu tidak bermodal lebih, hanya bermodal ketulusan hati kedua orang yang saling mencinta.”
Ricky : “Puitis banget. Ya nanti kalau waktunya tepat saya akan ungkapkan itu. Do’a kan diterima ya.”
R & K : “Amin.”
Dosen : “Siapa ramai di luar, ayo tidur besok kita mendaki lagi loh. Awas ya kalau besok waktu perjalanan ngantuk akan ditinggal rombongan.”
Semua : “Ya pak, di luar ada hewan buas, kami berusaha mengusirnya.”
Dosen : “Kalau sudah segera tidur.”
Semua : “Baik pak, siap.”
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan. Hari ini mereka telah menempuh ketinggian 2500 kilo meter dari atas permukaan laut dan melampaui medan yang lumayan berat dari sebelumnya. Dengan susah payah mereka mendaki tebing yang cukup curam dengan sudut elevasi sebesar 120 derajat dengan jalan yang cukup becek akibat hujan pegunungan semalam.
Dosen : “Semuanya hati-hati, awas tebing curam dan jalan be..”
Sebelum suku kata terakhir yaitu “cek” terucap dari mulut dosen, Riani sudah terpeleset dan hampir jatuh ke bawah.
Riani : “Aduh. Tolong.” (terpeleset dan hampir jatuh)
Ricky : “Kamu nggak apa-apa?” (memegang tangan Riani)
Riani : “Nggak apa-apa. Terima kasih kamu menyelamatkan nyawa say. Tapi segera lepaskan pegangan tangannya ya. Nanti dikira kita ada hubungan apa gitu."
Ricky : “Em.. Baiklah” (tidak bisa berucap lagi)
Aisyah : “Untung ada Ricky, kalau nggak ada pasti Riani pasti sudah jatuh di bawah sana.”
Kristanti : “Kelihatannya tuh Ricky ada rasa sama Riani.” (berbisik)
Aisyah : “Masa’?” (teriak)
Kristanti : “Jangan keras-keras donk. Kamu sih tadi malam tidur duluan, di luar tenda Ricky, Riani, sama saya berbincang-bincang masalah pacar. Ricky berkata ada seseorang yang ada di hatinya sekarang. Kemungkinan itu Riani. Tatapan matanya loh ada di Riani kemarin ketika saya lihat.” (berbisik)
Aisyah : “Cocok juga mereka berdua kalau jadian.”
Riani : “Siapa yang cocok kalau jadian?”
Kristanti : “Bukan siapa-siapa, Satria sama kamu.” (menyeleweng topik dengan nada tidak bersalah)
Riani : “Sudah saya bilang saya tidak suka itu.”
Kristanti : “Ya maaf keceplosan. Kamu sih Aisyah bicara keras banget jadi Riani tahu."
Aisyah : “Lha kelihatannya beritanya hot kayak gitu maka saya langsung kaget mendengarnya.”
Ricky : “Satria itu siapa sih? Dari kemarin saya dengar kata itu.”
Riani : “Oh, itu ya. Dulu dia teman SMA kita dan sekarang dia melanjutkan di Fakultas Bahasa Indonesia UGM.”
Ricky : “Begitu ya, maaf kalau cari tahu tentang kamu berlebihan.”
Riani : “Nggak juga kok, saya lebih suka tipe orang yang mau ngajak bicara saya. Saya paling tidak suka kalau suasana hening.”
Akhirnya tebing yang curam dan becek itu terlampaui juga. Di ketinggian 3000 km, tanah India bagian utara dengan sungai Brahmaputra dan Indus yang mengalir menghidupi masyarakat India dan Pakistan sudah mulai terlihat.
Dosen : “Di ketinggian ini lah kalian bisa melihat hamparan tanah India bagian utara dengan sungai Indus dan Brahmaputra serta hamparan pasir Kashmir bisa kalian lihat disini.”
Riani : “Bisa ambilkan foto saya?” (menyerahkan kamera ke Ricky)
Ricky : “Ok.”
A & K : “Nimbrung foto bareng.”
Ricky : “Baiklah, 1..2..3.. Klik."
R, A, dan K : “Bagus, buat cover facebook sama ganti Avatar nanti."
Ricky : “Disini mah nggak ada sinyal.”
Aisyah : “Masa ya harus upload foto disini. Ya dibawah lah.”
Ricky : “Cuma meyakinkan aja.”
Perjalanan dilanjutkan lagi setelah foto-foto bagus telah nitip di kamera Riani. Tak beberapa lama dari situ  rombongan UGM bertemu 2 orang dari rombongan Havard yang tertinggal.
Riani : “Hello, what’s your name?”
Terry : “Hello, my name is Terry, and what’s your name?”
Riani : “I’m Riani, I’m from Indonesia.”
Terry : “Indonesia? Nice place. I’m from England.”
Riani : “England is nice place too. Why you still here?”
Terry : “I was left behind my group. May I join with your group?”
Riani : “Ok, it’s no problem. Nice to meet you.”
Terry : “Nice to meet you to."
Kristanti : “Siapa mereka?”
Riani : “Yang satu bernama Terry yang satunya saya belum kenalan soalnya masih berbicara dengan dosen. Dia rombongan yang tertinggal dari Havard.”
Aisyah : “Ternyata ada juga ya orang luar negeri yang ramah.”
Kristanti : “Tapi nggak semua.”
Aisyah : “Iya saya juga tahu kamu dibentak orang asing saat makan bareng seminggu kemarin kan?”
Kristanti : “Masa-masa suram.”
Aisyah : “Ha..ha..”
To Be Continued Menggapai OZON Part 3 (End)
Title: Menggapai OZON Part 2; Written by Yudha Kristanto; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar