Maybe
I was too scared that it was too much of a love for me to receive
Maybe I was sorry that there wasn’t anything I could do for you.
But just be sure to know this, just trust in my love.
Beberapa waktu kemudian mereka sekarang menjadi
mahasiswa Fakultas Geologi UGM Semester 2. Dan pada hari ini lah, ada kejutan spesial bagi Riani, Kristanti, dan Aisyah untuk mewujudkan mimpi mereka, yaitu MENGGAPAI OZON.
Dosen : “Selamat pagi, ada berita yaitu
minggu depan UGM bekerja sama dengan Havard akan mengadakan penelitian yang
sangat tidak biasa. Hanya 10 anak saja dan 5 dosen saja yang akan berangkat
kesana.”
Ricky : “Mau kemana pak, kelihatannya
asik juga."
Dosen : “Kalian mau tahu atau pakai
banget."
Semuanya : “Ya pakai banget lah pak, masa pakai
sambal."
Dosen : “Baiklah saya jelaskan. Minggu
depan bagi nama-nama yang ditunjuk akan berangkat ke Nepal, kita akan mengkaji
tanah dan bebatuan yang ada di pengunungan Himalaya.”
Ricky : “Benar pak? Asik sekali donk,
kita bakalan di titik tetinggi dunia.”
Aisyah : “Teringat buku yang dibeli
Kristanti tentang “Ozon di Himalaya”. Kalau kita bertiga ikut kesana pasti kita
benar-benar membuktikan mimpi kita.”
Kristanti : “Benar juga tuh. Asik deh
kelihatanya. Kalau kita sampai puncak maka kita akan menyentuh Ozon.”
Dosen : “Menurut prestasi kalian di
semester 1, maka 10 anak yang memiliki nilai tertinggi yang akan kesana yaitu,
Cucok, Rumpi, Rempong, Supong, Dugong, Fray, Ricky, Aisyah, Kristanti, dan
Riani.” (sambil menunjuk satu per satu anak yang akan berangkat ke Nepal)
Riani : “Kita bertiga disebutkan.
Apakah ini mimpi atau kenyataan?” (mencubit pipinya sendiri)
Aisyah : “Aku jadi lemas kalau begini.”
Kristanti : “Aku nggak bisa menolaknya juga
nggak bisa berkata apa-apa."
Dosen : “Saya tunggu nanti jam 5 sore
untuk TM. Kalau tidak datang maka saya anggap mengundurkan diri dan digantikan
oleh mahasiswa yang lain.”
Semuanya : “Baiklah pak. Kami siap.”
Seminggu
kemudian, mereka semua berkumpul di tempat yang sudah dijanjikan semula waktu
TM yaitu di bandara Juanda. Setelah
sebelumnya mengurus pasport dan membeli tiket, tepat pukul 09.00 Asia Airlines
terbang tinggi diatas tanah Indonesia menuju tanah Nepal. Pukul 06.00 WIB atau
pukul 04.30 Waktu Nepal, pesawat mendarat di bandara Kathmandu dengan selamat.
Dosen : “Inilah Nepal dan dibelakang itu
adalah pemandangan pegununan tertinggi di dunia dengan puncaknya yaitu Everest
dengan ketinggian 8888 mdpl.”
Aisyah : “Sangat indah ya. Akankah kita
benar-benar bisa sampai disana?”
Riani : “Kalau ada tekad pasti berbuah
hasil. Kita buktikan mimpi kita akan tercapai.”
Dosen : “Terserah kalian meneliti tanah
yang bagian mana atau kalian mau meneliti kandungan salju diatas sana. Ada
waktu sekitar 2 minggu untuk penelitian dan pendakian untuk kalian.”
Ricky : “Asik donk. Kapan mulai pendakian
pak?”
Dosen : “Besok pagi sekitar pukul 09.00
Waktu Nepal. Untuk hari ini kita check in di hotel dulu untuk istirahat."
Semuanya : “Baiklah pak.”
Keesokan
harinya semua peserta penelitian dari Havard dan UGM bersiap-siap untuk
mendaki. Mereka sudah memakai pakaian yang tebal, peralatan kemah, juga
membahwa perbekalan yang cukup.
Riani : “Pak, kita dapat sampai puncak
jam berapa ya?”
Dosen : “Mungkin sekitar 5 hari kedepan.”
Aisyah : “Apa? Lima hari pak?”
Dosen : “Ya benar, kalian fikir perjalanan
pendakian ini mudah? Medan yang kita lalui ini lebi berat daripada kita mendaki
gunung-gunung di Indonesa.”
Semua : “O begitu ya.”
Dosen : “Ayo mulai mendaki, sudah cukup
jauh ditinggalkan sama mahasiswa Havard loh.”
Setelah
percakapan itu, tidak ada perbincangan lagi. Tatapan mata hanya ke arah depan
dengan tengokan leher ke atas menatap gagahnya puncak Everest yang siap
diinjaki oleh para petualang dari Indonesia ini. Tak terasa matahari sudah
mulai bersembunyi di punggung pegunungan Himalaya yang membujur dari timur
menuju barat dan berbelok ke utara.
Riani : “Capek juga ya.”
Ricky : “Masih perjalan segini aja
sudah capek.”
Aisyah : “Sudah berapa kilo sih ini pak?”
Dosen : “Masih satu setengah dari atas
permukaan laut. Belum terlihat apa-apa disini. Sudah mulai malam kita dirikan
tenda dulu aja.”
Perjalanan
hari ini pun hanya berhenti di 1,5 kilometer dpl. Belum tampak dari sini
hamparan tanah India yang begitu luas dan indah. Jam tangan sudah bergerak
menuju pukul 20.00 waktu setempat. Semua peserta sudah beristirahat karena
kecapekan dan mempersiapkan energi untuk mendaki lagi keesokan harinya. Hanya
Raisha dan Kristanti yang masih bertahan menikmati secangkir kopi susu dan
berhangat dekat api unggun yang masih menyala.
Riani : “Nggak enak ya mendaki tanpa
mengajak pacar.”
Kristanti : “Sama. Tapi bagaimana lagi, takdir
berkata seperti itu.”
Riani : “Kita nikmatin saja yang ada."
Kristanti : “Lama ya kita nggak bahas Satria
lagi.”
Riani : “Jangan bahas itu, saya nggak
suka.”
Kristanti : “Ya udah deh."
Tak
berapa lama Ricky ikut-ikutan nimbrung yang sebelumnya telah mendengar
samar-samar percakapan mereka berdua
dari dalam tenda.
Ricky : “Belum tidur?”
Riani : “Belum.”
Ricky : “Lagi galau ya tentang pacar”
Kristanti : “Iya nih.”
Ricky : “Kalau begitu sama.”
Kristanti : “Kamu juga masih single?”
Ricky : “Iya, dulunya saya juga
mengejar cewek tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya.”
Riani : “Berarti kita bertiga dan
Aisyah yang sudah kayak badak tidur bernasib sama donk.”
Ricky : “Tapi sekarang saya punya rasa
sama seseorang, tapi saya sulit mengungkapkannya."
Kristanti : “Ya ungkapin saja, kan setiap orang
memiliki sifat yang beda. Mungkin yang satu ini bisa menerimamu.”
Ricky : “Saya nggak punya modal untuk
mengatakan hal itu.”
Riani : “Sebenarnya cinta itu tidak
bermodal lebih, hanya bermodal ketulusan hati kedua orang yang saling
mencinta.”
Ricky : “Puitis banget. Ya nanti kalau
waktunya tepat saya akan ungkapkan itu. Do’a kan diterima ya.”
R
& K : “Amin.”
Dosen : “Siapa ramai di luar, ayo tidur
besok kita mendaki lagi loh. Awas ya kalau besok waktu perjalanan ngantuk akan
ditinggal rombongan.”
Semua : “Ya pak, di luar ada hewan buas,
kami berusaha mengusirnya.”
Dosen : “Kalau sudah segera tidur.”
Semua : “Baik pak, siap.”
Keesokan
harinya perjalanan dilanjutkan. Hari ini mereka telah menempuh ketinggian 2500
kilo meter dari atas permukaan laut dan melampaui medan yang lumayan berat dari
sebelumnya. Dengan susah payah mereka mendaki tebing yang cukup curam dengan
sudut elevasi sebesar 120 derajat dengan jalan yang cukup becek akibat hujan
pegunungan semalam.
Dosen : “Semuanya hati-hati, awas tebing
curam dan jalan be..”
Sebelum
suku kata terakhir yaitu “cek” terucap dari mulut dosen, Riani sudah terpeleset
dan hampir jatuh ke bawah.
Riani : “Aduh. Tolong.” (terpeleset
dan hampir jatuh)
Ricky : “Kamu nggak apa-apa?”
(memegang tangan Riani)
Riani : “Nggak apa-apa. Terima kasih
kamu menyelamatkan nyawa say. Tapi segera lepaskan pegangan tangannya ya. Nanti
dikira kita ada hubungan apa gitu."
Ricky : “Em.. Baiklah” (tidak bisa
berucap lagi)
Aisyah : “Untung ada Ricky, kalau nggak
ada pasti Riani pasti sudah jatuh di bawah sana.”
Kristanti : “Kelihatannya tuh Ricky ada rasa
sama Riani.” (berbisik)
Aisyah : “Masa’?” (teriak)
Kristanti : “Jangan keras-keras donk. Kamu sih
tadi malam tidur duluan, di luar tenda Ricky, Riani, sama saya
berbincang-bincang masalah pacar. Ricky berkata ada seseorang yang ada di
hatinya sekarang. Kemungkinan itu Riani. Tatapan matanya loh ada di Riani
kemarin ketika saya lihat.” (berbisik)
Aisyah : “Cocok juga mereka berdua kalau
jadian.”
Riani : “Siapa yang cocok kalau
jadian?”
Kristanti : “Bukan siapa-siapa, Satria sama
kamu.” (menyeleweng topik dengan nada tidak bersalah)
Riani : “Sudah saya bilang saya tidak
suka itu.”
Kristanti : “Ya maaf keceplosan. Kamu sih
Aisyah bicara keras banget jadi Riani tahu."
Aisyah : “Lha kelihatannya beritanya hot
kayak gitu maka saya langsung kaget mendengarnya.”
Ricky : “Satria itu siapa sih? Dari
kemarin saya dengar kata itu.”
Riani : “Oh, itu ya. Dulu dia teman
SMA kita dan sekarang dia melanjutkan di Fakultas Bahasa Indonesia UGM.”
Ricky : “Begitu ya, maaf kalau cari
tahu tentang kamu berlebihan.”
Riani : “Nggak juga kok, saya lebih
suka tipe orang yang mau ngajak bicara saya. Saya paling tidak suka kalau
suasana hening.”
Akhirnya
tebing yang curam dan becek itu terlampaui juga. Di ketinggian 3000 km, tanah India bagian utara dengan sungai Brahmaputra dan Indus yang mengalir menghidupi
masyarakat India dan Pakistan sudah mulai terlihat.
Dosen : “Di ketinggian ini lah kalian
bisa melihat hamparan tanah India bagian utara dengan sungai Indus dan
Brahmaputra serta hamparan pasir Kashmir bisa kalian lihat disini.”
Riani : “Bisa ambilkan foto saya?”
(menyerahkan kamera ke Ricky)
Ricky : “Ok.”
A
& K : “Nimbrung foto
bareng.”
Ricky : “Baiklah, 1..2..3.. Klik."
R, A,
dan K : “Bagus, buat cover facebook
sama ganti Avatar nanti."
Ricky : “Disini mah nggak ada sinyal.”
Aisyah : “Masa ya harus upload foto
disini. Ya dibawah lah.”
Ricky : “Cuma meyakinkan aja.”
Perjalanan
dilanjutkan lagi setelah foto-foto bagus telah nitip di kamera Riani. Tak
beberapa lama dari situ rombongan UGM
bertemu 2 orang dari rombongan Havard yang tertinggal.
Riani : “Hello, what’s your name?”
Terry : “Hello, my name is Terry, and
what’s your name?”
Riani : “I’m Riani, I’m from
Indonesia.”
Terry : “Indonesia? Nice place. I’m
from England.”
Riani : “England is nice place too.
Why you still here?”
Terry : “I was left behind my group.
May I join with your group?”
Riani : “Ok, it’s no problem. Nice to
meet you.”
Terry : “Nice to meet you to."
Kristanti : “Siapa mereka?”
Riani : “Yang satu bernama Terry yang
satunya saya belum kenalan soalnya masih berbicara dengan dosen. Dia rombongan
yang tertinggal dari Havard.”
Aisyah : “Ternyata ada juga ya orang luar
negeri yang ramah.”
Kristanti : “Tapi nggak semua.”
Aisyah : “Iya saya juga tahu kamu
dibentak orang asing saat makan bareng seminggu kemarin kan?”
Kristanti : “Masa-masa suram.”
Aisyah : “Ha..ha..”
To Be Continued Menggapai OZON Part 3 (End)
Title: Menggapai OZON Part 2; Written by Yudha Kristanto; Rating: 5 dari 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar